ELEGI SENJA


Pagi masih belum benar-benar menampakkan pendarnya, matahari masih malu-malu untuk menyapa bumi. Bergegas, kutangkupkan sarung yang ku kenakan sehabis salat subuh. Tergopoh-gopoh mencari sesuatu, berharap ia nyata. Setengah berlari, ku susuri jalan setapak yang belum jadi. Rumah kakek adalah tujuanku. Biasanya sepagi ini, kakek sudah beranjak ke kebun atau sawahnya. Terlambat sedikit saja, aku hanya menjumpai gelas kopinya yang kosong, petanda ia sudah tenggelam dalam aktifitasnya. Dan kalau sudah demikian, kakek akan sulit untuk diajak bicara. Baginya bekerja adalah ibadah, harus dilakukan dengan sepenuh jiwa, karena akan berpengaruh terhadap hasil yang akan dipanen.

Rumah kakek memang tidak terlalu jauh dari rumah orangtuaku, sekitar 2 KM. Namun jalan yang berkelok, sedikit mendaki dan cenderung curam, membuatku agak kepayahan untuk menapakinya. Lalai sedikit saja, bisa terpeleset dan jatuh. Lamat-lamat kulihat embun membentuk barisan, sedikit mengaburkan jarak pandangku. Namun, tekadku untuk bertemu kakek secepat mungkin, membuat tenagaku seakan berlipat-lipat, padahal perutku masih kosong melompong. Kuabaikan semua itu demi sebuah jawaban.

Setiba di pekarangan, kulihat rumah panggung itu terlihat tenang. Model rumah kakek memang unik, khas rumah-rumah yang ada di sulawesi selatan. Baginya, identitas budaya tidak boleh dihilangkan. “Kalau tidak ada lagi rumah seperti ini. Tidak akan kau tahu identitasmu”. Kata kakek suatu hari kepadaku. Aku sempat nyiyir, “masak sih rumah jadi identitas. Yang identitas itu KTP”. Kataku dalam hati, tak berani membantahnya. Mataku menyapu kolong rumah, namun kakek tak terlihat. Sambil menarik nafas dalam-dalam, kucoba untuk menapaki tangga rumah kakek. Ku lihat pintu rumahnya terbuka lebar. Sambil melongokkan kepalaku ke dalam rumah kakek.
“Assalamu’alaikum. Kakek...kek, ini Rida Kek”. Namun tak ada jawaban.

Berkali-kali kupanggil, tetap saja tak ada jawaban. Ah.. mungkin aku sudah lambat. Tapi mengapa pintu rumah kakek masih terbuka. Biasanya kakek orangnya sangat detail. Tidak mungkin ia pergi dengan pintu rumah masih tetap terbuka. Akhirnya, kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah kakek. Saat mau kuayunkan langkahku. Terdengar suara yang sudah sangat akrab ditelingaku.

“Sudahkah kau dipersilahkan masuk.”

“Eh..kakek, maaf. Aku mengira kakek lupa menutup pintu”.

“Tapi, kakek dimana?”

“Disini, di dekatmu”

“Ihh...tapi kek, aku tak melihatmu.” Kataku, sedikit bergidik.
Kenapa pula kakek mempermainkanku sepagi ini, apa dia tidak tahu kesulitanku untuk menemuinya.

“Masuklah, temui kakek di kamar”

Sedikit ragu, ku ayunkan langkahku. Dengan sedikit berjingkrat, suara langkahku menimbulkan bunyi di lantai papan, yang sudah mulai lapuk. Ku singkap tirai lusuh yang menutupi kamar kecilnya. Ku lihat kakek tengah khusuk, mulutnya komat kamit. Di atas sajadah, kulihat bulir air matanya menetes, namun tak kudengar suara terisak. Matanya sembab, meskipun tertutup oleh kelopaknya. Tenang tanpa suara. Hanya sesekali suara ayam berkokok, tanda pagi benar-benar diterangi matahari. Ingin kusapa kakek, tapi kuurungkan demi membiarkan ia bercengkrama dengan Tuhannya.

Kuputar badanku, untuk menunggu kakek di kursi kayu diruang tengah rumah.

“Duduklah, disamping kakek”

Terhenyak aku putar haluan mendekati kakek. Tapi keherananku semakin mengumpal, saat ku lihat kakek tanpa ekspresi. Dengan pelan, duduklah aku disamping kakek. Tak tahu harus berkata apa-apa. Kepalaku terasa nyut-nyutan, mau mencari jawaban tapi malah semakin banyak pertanyaan yang berkelindan. Kakek pagi ini, terasa begitu misterius. Penuh aura mistis, terasa sejuk dan damai.

“Isyarat ini sepertinya sudah dekat”
“Isyarat apa, Kek?
“Keadilan”
“Maksud Kakek?
“Aku tahu, yang ingin kau tanyakan. Memang saat keraguan melingkupi manusia, mereka membutuhkan jawaban. Tapi, tahukah engkau nak, saat jawaban tersingkap yang muncul adalah pertanyaan-pertanyaan.”
“Darimana kakek tahu, padahal aku belum menyampaikannya? Kataku sedikit kaget.
“Aku tidak mengetahuinya nak, tapi aku menyaksikannya”

Pikiranku kini terasa hanyut entah kemana. Betapa rumitnya untuk sekedar berbicara dengan kakek. Membuat otakku bekerja lebih ekstra untuk mencernanya.

“Kakek menyaksikan apa yang saya tanyakan?’
“bukan pertanyaan, tapi makna yang ingin kau sampaikan”
“kakek menyaksikan makna?
“Makna itu memiliki makna, terkadang makna itu hanya bisa disaksikan, terkadang juga makna sesuatu itu tidak memiliki makna”
“saya bingung, kek”
“baguslah, itu langkah awal menyelami makna”

Rasanya aku dilemparkan dipadang pasir yang gersang, seperti mengharapkan air namun hanya dapat mencerna oase. Pertanyaan yang membuatku pagi-pagi harus bertemu kakek, kini menjadi berlapis-lapis.

“Kek, aku masih penasaran”
“Tentang apa?
“Mengapa kakek tidak membiarkan aku menyampaikan pertanyaan?
“karena engkau mengetahui sedikit rahasia, yang tidak engkau fahami”
“Keadilan, makna dan rahasia, semua itu maksud kakek”

Kakek menatap mataku dalam-dalam,
“sepertinya engkau sudah mulai mencerna”
“apa yang dapat saya cerna, kalau semua yang kakek sebut mengerutkan otakku”
“Hahahahaha.....”
“Kok, kakek malah tertawa”
“Datanglah nanti sore, sepulang aku menuntaskan semua urusan. Dan engkau akan tahu sedikit rahasia yang ingin kau ketahui”
“Mengapa tidak sekarang saja”
“Karena jawabannya hanya bisa terungkap pada waktunya”
“Baiklah kek...”

Dengan malas, aku pamit mencium tangan kakek. Sebagai adab kesopanan yang selalu diajarkan terhadap orangtua.

***

“Rida..rida..” terdengar suara ibu memanggil
“Aku masih capek, bu”
“ayolah, cepat bangun. Kita kerumah kakek sekarang”
“sekarang pukul berapa, bu?
“pokoknya ini sudah sore, lihat sendiri saja”

Teringatlah aku tentang janji bertemu kakek. Berbegaslah aku untuk mandi.

“Tidak usah mandi, sekarang kita berangkat”
“Baiklah, Bu”
“Saya memang ada janjian dengan kakek sore ini”
“Apa..............???
“Iya, tadi pagi saya kerumah kakek. Tidak sempat pamit sama ibu, karena kulihat pintu kamar ibu masih tertutup. Mungkin ibu masih tertidur”
“Anakku.....!!! ibu tidak sanggup menahan gejolak emosinya. Matanya tiba-tiba menjadi merah berair.
“Kenapa Ibu, apa yang terjadi?
“Dini hari tadi, Ibu dan Bapakmu mengantarkan kakekmu ke rumah sakit, dan.....”
“Kakek sakit apa bu” kataku linglung
“Kakek sudah meninggalkan kita, tadi sore sepulang dari rumah sakit. Ia hanya berkata, bahwa ia ingin menepati janjinya”

Gemetar seluruh tubuhku, seakan dunia terbalik. Badanku terasa ringan. Ambruk, meraung-raung. Ibu memapah langkahku ke rumah kakek dengan terus menghiburku. Tapi ibu tidak tahu apa yang melanda akal dan perasaanku.

Sesampai di rumah kakek, tersungkur aku di tubuh kaku itu. Kupeluk erat sambil meronta.

“Nak....” ku dengar suara ibu
“Sebelum kakekmu pergi, ia menitipkan secarik kertas ini buatmu”

Dengan gemetaran, kuraih secarik kertas itu. Perlahan kubaca tulisan kakek.


“Rida, engkau sudah memahami tentang sedikit rahasia itu, bukan? Bila engkau ingin mengungkap jawaban atas pertanyaanmu. Carilah keadilan, makna dan rahasia itu. Kakekmu sudah menepati janjinya, sekarang engkau akan merasakan derita pencarian. Bersabarlah......!!!”


*) Muh. Syahudin_Pegiat Literasi

Untuk Engkau diri-ku


22 januari bukanlah semata kenangan, tetapi sebuah peristiwa dalam sejarah yang begitu membekas dalam relung jiwaku. Sebuah peristiwa penyatuan Jamal dan Jalal, sebentuk Ying dan Yang. Suatu kejadian dimana sebagian diriku telah kutemukan. Tentang sebagian perjalanan hidup yang mengisi setiap langkahku. Sebagaimana kerinduan yang membias, kehadiranmu adalah pengobatnya.

Sebelas tahun silam, untuk pertama kalinya aku mengenal hakikat cinta. Medium makna yang sudah redup telah kau sinari dengan aura mistis-mu. Untuk pertama pula aku merasa tersihir oleh keindahan, itupun kamu. Mungkin, hal yang sama pun kau rasakan. Buktinya, mataku silau oleh keindahan cahaya yang menangkupmu. Karena aku tahu sesuatu yang pasti, kau adalah aku dalam bentuk kelembutan.

Sebelas tahun sudah, kita mengarungi bahtera ini. Namun, aku merasa baru kemarin ikrar cinta kita diucapkan. Tiga pejantan tangguh, kini telah ikut mengisi bahtera kita. Silih berganti riak dan gelombang, telah berhasil kita lalui. Karena menuju tujuan itu, engkau terkadang lebih tangguh dariku. Saat aku lemah, engkau menguatkan. Saat aku butuh pegangan, tanganmu kau ulurkan. Kau mendaku; adakah kekuatan seperti aku bercermin di wajahmu, aku menyaksikan diriku sendiri.

Sebelas tahun kini, engkau sempat meragu akan eksistensiku. Tahukah cinta ! betapa engkau lebih dari yang kau bayangkan. Betapa rapuhnya langkahku seandainya engkau melebur dengan semesta. Semoga waktu akan membuktikan putarannya.

Sebelas tahun lalu, 22 januari 2006
hari ini 22 januari 2017_

untuk bidadariku HAPPY WEDDING ANNIVERSARY. 

FIKSASI



Sulit untuk menemukan arti dari sikap ambigumu.
Tidak mungkin.
Engkau saja yang bersikap ambigu.
Bukan..bukan karena ambigu mungkin.
Lalu apa?.
Aku merasa, engkau sudah tidak lagi meletakkan makna itu pada tempatnya.
Maksudmu? Iya.. bukankah kita sedang berada dalam kepastian.
Kau salah, kita sedang berada dalam ketidakpastian.
Justru itulah, satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian.
Ah..semakin ngawur saja.
Apa yang ngawur?.
Kata-katamu.
Kau ambigu lagi.
Braakkkk.....
***
Maaf aku sulit mengendalikan diri.
Disitulah letak kelemahanmu.
Apa sebenarnya maksudmu, tadi kau bilang aku ambigu sekarang lemah.
Aku tak sebut kau lemah, tapi kau memiliki kelemahan.
Memangnya kau itu sempurna?.
Tidak, aku tidak menyebut bahwa diriku sempurna.
Lalu apa?
Bukankah kau sudah membandingkan.
Saya hanya mencoba memberikan sudut pandang.
Bagiku itu terlihat menghakimi.
Terserah pendapatmu, bagiku itulah sudut pandang.
Tapi, bukankah kau menganggap sudut pandangmu itu benar.
Apa tidak salah?.
Maksudmu?.
Kau tuduh aku menghakimi, bukankah kau juga melakukannya?.
Memang ku akui, kau pandai mengakali pembicaraan.
Loh..mengakali itu apa?.
Sudahlah, bosan bicara dengan kamu yang sok filosofis.
Waduh..semakin heran aku, kok filosof dibawa segala.
Cukup kataku.....

Sudahlah..

EMPAT FIGUR KEZALIMAN DALAM SETIAP MOMENTUM PILKADA


Ali Syari’ati salah satu cendikiawan Muslim pernah berkata; ada empat figur penyebab berdirinya sistem kezaliman sepanjang zaman, empat figur tersebut masing-masing di wakili oleh Fir’aun sebagai  tonggak simbolisasi kekuasaan absolut, Hamann sebagai sosok intelektual bourjuis, Qarun sebagai visualisasi kapitalisme, dan Bal’am Bin Baura mewakili kelompok agamawan yang menjual ayat-ayat agama demi kepentingan pragmatis. Sepanjang sejarah figur-figur tersebut senantiasa berlawanan dengan keadilan, mereka tampil dengan wajah dan pola yang baru, tetapi dengan motif yang sama yaitu kekuasaan, kekayaan dan kepentingan sesaat. Kalaupun terdengar idiom-idiom keberpihakan terhadap rakyat, tidak lain hanya sekedar slogan yang digunakan untuk memeroleh apa yang ingin mereka capai.

Dalam hingar bingar demokrasi di Indonesia dewasa ini, memang setiap orang tidak terlepas dari kepentingannya, hanya saja bagaimana kepentingan tersebut diwujudkan, tentulah sangat ditentukan oleh motif yang melandasinya. Sejak arus reformasi menggeliat di negeri ini, Bangsa Indonesia terus belajar mengartikan sistem demokrasi dalam sistem pemilihan langsung dengan berbagai macam perangkat  undang-undangnya, tapi kenyataannya efek dari pemilihan langsung itu belum cukup berarti bagi peningkatan taraf hidup masyarakat. Kesejahteraan masyarakat dianggap penting dibicarakan ketika pemilihan akan atau sementara berlangsung, sehingga setiap perangkat dan slogan untuk menarik dukungan masyarakat bertebaran dimana-mana, parahnya lagi masyarakat sendiri tidak terlalu mempersoalkan apa sebenarnya yang ada dalam benak para kandidat, Hakikatnya kebutuhan masyarakat adalah bagaimana taraf kehidupan mereka bisa meningkat. Sederhananya apakah dengan berkuasa menjadi syarat berbuat untuk masyarakat, jawabannya tentu tidak. Tetapi mengapa kekuasaan begitu berarti bagi segelintir orang hari ini.

Kalau melihat fenomena yang terjadi dalam proses pilkada, sudah sepatutnyalah masyarakat mengingat dan mewaspadai empat figur yang digambarkan oleh Ali Syari’ati. Figur Fir’aun akan lahir bila setiap orang yang terlibat dalam proses pilkada hanyalah orang-orang yang haus akan kekuasaan, baginya kekuasaan hanyalah kesenangan belaka. Ia menganggap tidak begitu penting apakah masyarakat mendukungnya dengan sepenuh hati atau tidak, yang penting ia dapat terpilih menjadi penguasa, maka cara apapun harus di tempuh. Padahal sudah menjadi pengetahuan umum bahwa dalam pilkada ada aturan-aturan yang mengikat, akan tetapi kenyataannya setiap aturan senantiasa memiliki celah yang bisa dimanfaatkan. Aspek moralitas seorang pemimpin tidak begitu penting, ia lebih mengutamakan kemenangan daripada tegaknya keadilan, tengoklah dalam berita media elektronik maupun media cetak di beberapa daerah yang menyelenggarakan pilkada, ajang pilkada bukan lagi menjadi momentum bagi masyarakat untuk memilih pemimpinnya secara damai, tetapi pilkada telah berubah menjadi tragedi konflik sosial. Bukankah lebih baik menjadikan pilkada sebagai sebuah jalan bagi setiap kandidat untuk melayani kemanusiaan. Kalah dan menang mestinya menjadi ujian, dalam artian jika menang kandidat terpilih memikul tanggungjawab yang begitu besar kepada masyarakat, lakukanlah segala bentuk kerja nyata serta pengabdian terhadap rakyat dan kalaupun kalah, tidak kemudian tugas kemanusiaan itu menguap setelah hingar bingar pilkada berakhir.

Dalam Islam suara yang buruk disandarkan kepada suara keledai, mengapa suara keledai dianggap suara yang buruk sebab keledai akan bersuara ketika lapar. Perwajahan ini sangat terasa pada figur Hamann, yang biasanya “berteriak”/mengkritik apa saja dan siapa saja demi memenuhi kebutuhan perutnya. Hari ini figur Hamann tampil dalam wajah “aktifis” dengan berbagai macam bentuk dan variannya, ia akan tampil berbicara bila yang dibicarakan itu menguntungkannya, tapi ia diam bila keinginannya telah terpenuhi walaupun sadar telah terjadi ketimpangan dan ketidakadilan, ia akan melakukan perlawanan kalau “makanannya” di ganggu tapi akan bungkam bila hak-hak orang lain diambil, ia tidak berbuat apa-apa menyaksikan penguasa berbuat zalim, lalu ia menjadi orang yang tidak berarti apa-apa ketika sudah menduduki jabatan tertentu. Dari cerita Hamann, sudah sepantasnya kita menaruh rasa curiga kepada setiap orang yang bersuara lantang dalam pilkada, karena sulit untuk mengetahui mengapa ia bersuara, apakah yang keluar itu suara hati nurani ataukah suara keledai.

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberikan kelebihan hartanya dan menahan kelebihan pembicaraannya begitulah nasehat Nabi Muhammad Saw kepada ummatnya. Tetapi nasehat itu sudah terbalik, banyak diantara kita yang tidak bisa menahan pembicaraan walaupun hal itu sama sekali tidak bermanfaat baik bagi diri kita maupun bagi orang lain. Malah sebaliknya kelebihan harta yang dimiliki ditimbun dan ditumpuk setiap hari untuk memenuhi segala sesuatu demi kepuasan semata. Kalaupun ada yang memberi atau yang membagi-bagikan hartanya bukanlah sesuatu yang tanpa pamrih, harta yang dikeluarkan adalah modal yang harus kembali dengan keuntungan yang berlipat-lipat. Begitulah sosok Qarun menampilkan wajahnya dalam masyarakat. Momen pilkada adalah momen yang begitu penting bagi Qarun-Qarun modern untuk meraup keuntungan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di belakang para kandidat terdapat dukungan partai politik parlement maupun non parlement dan juga terdengar bahwa dalam dukungan tersebut ada istilah yang digunakan yaitu “kontrak politik”. Tapi tidak ada yang benar-benar tahu kontrak apa yang dimaksud. Apakah kontrak tersebut untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat ataukah kontrak tersebut untuk meningkatkan taraf ekonomi para politisi dan pengusaha. Pastinya telah bermunculan Qarun-Qarun modern.

Fenomena pilkada mungkin membuat sebagian masyarakat menjadi bingung untuk memilih siapa yang akan menjadi pemimpinnya, karena siapapun yang terpilih tetaplah hanya menguntungkan kelompok tertentu. Tetapi jangan khawatir, pada saat seperti inilah tampil sosok Bal’am bin Baura yang memiliki alat justifikasi untuk menghilangkan kebingungan masyarakat. Bal’am bin Baura sebagaimana yang digambarkan oleh ali Syari’ati adalah sosok agamawan yang “mengkampanyekan” ayat-ayat Tuhan untuk dijadikan slogan-slogan mendukung pasangan tertentu. Dengarlah hari ini, di beberapa tempat kita mendengarkan ayat-ayat Tuhan ditafsirkan dengan gampangan tanpa jelas sumber rujukan tafsirnya, dan fatalnya bila ayat-ayat Tuhan tersebut di sandarkan kepada kandidat tertentu yang bertarung dalam pilkada. Semoga saja hal ini tidak terjadi.


Mungkin ada benarnya apa yang di katakan oleh Naga Bonar (dalam film Nagabonar jadi dua) : “Salahku Hidup di zamanmu, zaman yang tidak pernah bisa kumengerti”. Sebagaimana Naga Bonar mungkin sebagian diantara kita akan berkata : “salahku karena hidup di era Pilkada, era yang sulit untuk dimengerti”. Akhirnya, tulisan inipun tidak bermaksud sebagai bentuk keberpihakan kepada suatu kelompok atau kandidat tertentu, melainkan keberpihakan kepada tegaknya keadilan dan kesejahteraan rakyat. Wallahu ‘alam bis shawab. (*)

(*) Muh. Syahudin_Pegiat Literasi

tulisan yang sama pernah dimuat di kolom opini Palopo Pos, dan di Sureq.com

MEMBELA BUYA SYAFI’I MA’RIF



Sosok yang akan dibicangkan ini, adalah salah satu dari tokoh bangsa yang saya idolakan. Ia tampil apa adanya, dan berani berbicara dari sudut pandang yang kritis dan radikal. Pernyataannya kadang mengandung kontroversi, dan blak-blakan. Keberaniannya yang berbeda dari pandangan mainstrem, bukanlah pandangan yang asal-asalan. Beliau telah ditempa dengan kehidupan dan memahami betul kondisi zamannya. Karakteristik plural dan egaliter yang menjiwainya, membuat banyak orang menaruh simpati. Walaupun disatu sisi terkadang ada pula yang tidak menyukainya.

Buya Ahmad Syafi’i Ma’rif, itulah namanya.  Lahir di Sumpurkudus, Sijunjung, Sumatera Barat 31 Mei 1935. Seorang ulama, pendidik dan ilmuwan Indonesia.  Ia pernah menjabat ketua umum Muhammadiyah periode 2000-2005, Presiden World Conference on Religion for Peace (WRCP), dan pendiri Ma’rif Institute. Beliau memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi, sikap plural, dan kritis. Ia tak segan-segan mengritik sebuah kekeliruan, meskipun yang di kritik temannya sendiri. (sumber: http://id.m.wikipedia.org/wiki/Ahmad-Syafi’i-Ma’rif)

Riwayat pendidikannya terbilang terjal. Masuk Sekolah Rakyat (SR), pada tahun 1942. Beliau tak memperoleh Ijazah, setelah hanya bisa menempuh pendidikan selama lima tahun. Dikarenakan beban ekonomi yang ditanggung ayahnya, beliau tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Baru di tahun 1950, ia masuk sekolah Madrasah Muallimin Muhammadiyah di Balai Tangah, Lintau sampai kelas tiga. Pada tahun 1953, di usia menginjak 18 tahun. Buya syafi’i yang akrab dipanggil Pi’i, meninggalkan kampung halamannya menuju Yogyakarta. Niat awalnya ingin melanjutkan sekolahnya di Madrasah Muallimin di kota itu, namun di tolak dengan alasan kelas sudah penuh. Mengisi kekosongan itu, ia menjadi guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, sembari mengikuti sekolah montir.

Setahun setelah itu, iapun diterima kembali bersekolah di Madrasah Muallimin, dan menyelesaikannya di tahun 1956. Ia lagi-lagi tak dapat melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, penyebabnya masih sama yaitu biaya. Apalagi setelah ayahnya meninggal di tahun 1955.  Ia baru melanjutkan studinya di Surakarta, setelah sempat menjadi guru di Lombok Timur dan menyelesaikan gelar Sarjana Muda di Universitas Cokroaminoto di tahun 1964. Lalu, dilanjutkan dengan pendidikan tingkat doktoral, pada Fakultas Ilmu Keguruan Ilmu Sosial, IKIP (sekarang UNY) Yogyakarta yang ditamatkan pada tahun 1968. Selama kuliah itu, ia pernah menjadi guru ngaji, buruh dan pelayan toko kain. Disamping itu ia juga aktif di redaktur Suara Muhammadiyah dan PWI.

Selama menjadi Mahasiswa, Buya juga pernah  aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Keseriusannya menekuti bidang ilmu sejarah, mengantarkannya mengikuti Program Master di departemen sejarah Universitas Ohio, AS. Sementara gelar doktornya di peroleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS. Disertasinya adalah Islam as the Basic of State: A Study of Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia. Selama di Chicago inilah, Buya secara intensif mengkaji Al-Qur’an di bawah bimbingan Fazlur Rahman, salah satu tokoh pembaharuan Islam.

Saya harus menjelaskan sedikit tentang kehidupannya, untuk mengingatkan publik bahwa beliau memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni. Dengan segudang pengalamannya, tidaklah pantas bila ada yang menghujatnya dengan kata-kata kotor dan tak ber-etika. Boleh saja kita memiliki pandangan yang berbeda dengan beliau, tapi tidak serta merta kita lupa untuk bercermin. Kontroversi memang sudah menjadi santapan hari-harinya. Publik tentu masih ingat, beberapa persoalan bangsa yang membuatnya sering dihujat. Bukan karena tendensi pribadi ia mengambil sikap berbeda, tetapi lebih karena kepeduliannya atas sesama dan NKRI. Sebuah manifestasi akan identitas ke-Islaman yang Rahmatan lil A’lamin.

Melawan arus, begitulah ciri khas Buya. Ia tidak pernah ragu berbicara “pedas”, bila dianggapnya terjadi penyimpangan ataupun kesalahan. Tak ada kata gentar,  meskipun berhadapan dengan arus besar sekalipun. Hal ini pulalah yang mengakibatkan  banyak orang seperti cacing kepanasan. Akhirnya membuat fitnah-fitnah murahan agar terjadi pemutarbalikan opini.


Terbaru dan hangat, Buya di bully habis-habisan hanya karena beliau berbeda pandangan tentang Ahok. Baginya, Ahok tidaklah menistakan agama dari pernyataannya di Belitung. Pernyataannya, yang melawan arus inilah ditenggarai sebagai penyabab di degradasinya seorang Buya sebagai seorang Ulama. Bahkan, ada yang sampai pada tingkat menyesatkannnya. Tapi apapun itu, bagi saya Buya tetaplah seorang petarung sejati. (*)

(*) Muh. Syahudin_ Pegiat Literasi

Analisis Framing dan Pentingnya Literasi Media

Pendidikan tinggi dan gelar yang berderet, bukanlah jaminan seseorang tidak terjebak pada kesalahan mencerna informasi. Dibeberapa akun facebook dan blog, saya sering mengamati kejadian ini. Betapa gampangnya sebuah pemberitaan di-share dan di-amini, hanya karena kontennya sesuai dengan suasana hati kita. Namun, bila ada berita yang kontra terhadap suasana hati, maka berlomba-lombalah kita bagai kawanan domba untuk menghujatnya. Mungkin karena alasan inilah, saya selalu selektif untuk men-share sebuah pemberitaan di media.

Makna adalah sebuah rumah bagi kata-kata, dibingkai untuk keperluan manusia memahami sebuah kalimat. Bila Makna, sudah dipaksakan berdasarkan kehendak kita, maka kata-kata tidak ada lagi yang ber-makna. Karena ia akan dibelenggu oleh hasrat kita. Biarpun makna itu sesuatu yang dapat dicerna akal. Namun terkadang karena kita mencernanya dengan perasaan, yang terjadi adalah makna menjadi simulakrum. Kesadaran akan realitas, kita hidupkan di dunia maya. Sedangkan, di-realitas kita hanya menjadi budak informasi tanpa kritik. Mungkin inilah yang disebut absurditas diri. Yaitu diri yang palsu.

Ada baiknya, sebelum menelan mentah-mentah konten media, pelajarilah bagaimana sebuah media bekerja. Di dalamnya kita akan menjumpai, apa yang disebut framing. Kalau anda yang belajarnya hanya sama Google, cari saja informasi tentang framing itu. Secara umum analisis framing adalah salah satu cara bagi kita untuk menganalisis media, sebagaimana kita menganalisis isi maupun unsur semiotik yang terlibat di dalamnya. Karena itu, framing juga disebut “bingkai” dari sebuah peristiwa. Proses pem-bingkai-an itu berdasarkan persfektif wartawan atau media massa, dalam mengelola isu dan berita.

Kalau kita mau untuk sedikit cerdas, gunakanlah kritik. Hatta, terhadap informasi yang sesuai dengan kondisi emosionalitas kita. Menelannya begitu saja, ibarat memasukkan makanan ke dalam tubuh tanpa seleksi. Akibatnya kita terserang penyakit. Namun, bedanya jiwa kita yang sakit. Parahnya lagi, kalau kita malah merasa bahwa kita sehat-sehat saja. Analisis framing, dipengaruhi oleh aspek sosiologi ala Peter L Berger juga aspek psikologi terkait faktor skema dan kognisi. Pem-bingkai-an dengan model sosiologi sebutlah paradigma konstruksi, bahasa halus dari propaganda. Berita yang merupakan informasi sebuah kejadian atau peristiwa dibuat dengan cara dikonstruksi dengan makna tertentu, agar lebih menyentuh khalayak ramai, atau menjadi viral. Dari sudut ini, kita dapat menerka bahwa informasi media cenderung hanya memenuhi ekspektasi publik. Bila tidak, media tersebut akan dengan mudah di-cap memihak atau antek aseng. Karena itu, masih menurut Berger, “realitas bukanlah sesuatu yang mandiri dan statis”. Tetapi ia dibentuk dan di-konstruksi.

Teori konstruksi bekerja dibalik bahasa sebagai instrumennya, proses konstruksi realitas dimulai ketika seorang konstruktor melakukan obyektifikasi terhadap suatu kenyataan, yakni melakukan persepsi terhadap suatu objek. Selanjutnya, hasil dari pemaknaan melalui persepsi itu diinternalisasi ke dalam diri konstruktor. Tahapan selanjutnya, dilakukanlah konseptualisasi terhadap obyek yang dipersepsi. Terakhir, proses eksternalisasi atas hasil dari proses permenungan secara internal tadi, melalui pernyataan-pernyataan. Nah, disinilah alat yang bekerja adalah bahasa. Sederhananya, antara fakta dan opini dalam media tidak dapat dipisahkan. Karena itu, dalam proses ulasan berita melibatkan unsur subyektifitas seseorang, melalui opini yang dibentuk dan dikonstruksi, berdasarkan kepentingan tertentu.

Akar historis analisis framing bermuara dari pendekatan analisis wacana.  Dipopulerkan oleh Beterson pada tahun 1955, untuk pertama kalinya frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan dan wacana dalam mengapreasi realitas. Dalam perkembangannya, framing dimaknai sebagai gambaran proses penyeleksian dan penyorotan aspek-aspek khusus sebuah realita oleh media. Ada dua esensi yang dapat dicerna dari analisis framing, yaitu; pertama, bagaimana sebuah peristiwa dimaknai. Ini berhubungan dengan bagian mana yang diliput dan mana yang tidak diliput. Kedua, bagaimana fakta ditulis. Perihal ini terkait dengan pemakaian kata, kalimat, dan gambar yang mendukung gagasan.

Kegandrungan penggiat media sosial dewasa ini, cenderung instan dalam menyerap informasi. Tanpa alat ukur yang memadai, merasa nyaman terjajah dari pola arus informasi yang massif dan tendensius. Kalau tidak mempelajari pola, maka kita tidak akan mengetahui bentuk, isi dan motif informasi. Bijak sejak di dalam pikiran, adalah bagaimana akal kita mampu memfilter validitas setiap arus informasi secara adil. Fenomena media abal-abal dan hoax, begitu cepat diserap dan disikapi dengan kata-kata yang cenderung provokatif. Sudah selayaknya mencerna itu dibutuhkan kesadaran kritis, jangan lagi mau di provokasi hanya karena di situ identitas kita merasa tercedera, bisa jadi motif dibaliknya adalah imposible hands yang mengontrol serta membingkai kita untuk terus berada dalam pusaran pertikaian.

Membangun kesadaran kritis, salah satunya dengan menggiatkan pentingnya literasi media. Tentunya, selalu berbagi dengan informasi positif dan mencerdaskan. Berikut diantaranya :

1.    Telusuri-lah terlebih dahulu, konten berita tentang apa. Kalau genre-nya politik, analisis-lah dengan pendekatan politik. Bagaimana pola dan bentuk politik bekerja, modus-modus politik, motif serta tendensinya. Cari-lah informasi penyeimbang atau kontra. Cari puzzle dan klik-nya. Buatlah pertanyaan dan kerangka konklusi sementara. Bangunlah kritik, dengan analisis framing.
2.    Gunakanlah kaidah Logika. Bila terjadi polemik dalam sebuah pemberitaan, kaji-lah premis-premis yang digunakan. Teliti konsistensi diksi, dengan berbagai sumber yang ada. Pantau keseragaman media, juga perbedaannya dalam memuat berita. Lihat-lah sudut pandang dari penulis sebagai konstruktor. Karena pembaca memiliki dunia tanda-nya sendiri.  
3.     Hindari baskom (bicara asal komentar). Tentu kita masih ingat, seorang anak muda yang asal komentar terhadap tweet Gus Mus. Karena kicauannya yang asal, ia terancam dipecat dari pekerjaan. Sampai-sampai, ibunya harus ikut menyertainya minta maaf ke Gus Mus. Masih beruntung, Gus Mus memiliki jiwa besar dan pemaaf. Di jejaring sosial, ini sering saya saksikan. Merasa membela kebenaran, tapi menggunakan diksi yang kotor. Sampai mengumpat dan melibatkan semua binatang. Ada yang bertanya “anda sehat?” tapi, pernyataannya juga tidak sehat.
4.     Perbanyaklah membaca buku, agar kita kaya dengan persfektif. Hal ini penting, karena miskin persfektif membuat ruang berfikir sempit. Sehingga, mudah saja kita melakukan penilaian, tanpa berusaha untuk menguji shahih atau tidaknya sebuah berita.
5.        Don’t just a book by the cover (jangan menilai buku dari tampilannya). Sering kita terjebak pada simbolitas dan label. Menilai dari pandangan pertama, tanpa mau mengkaji isi. Kita baru menyesal setelah kebenaran terungkap. Oleh karena itu, bila tidak sependapat dengan orang lain. Pelajarilah sumber pengetahuannya, dan berdiskusi-lah untuk menguji argumentasi masing-masing. Bisa jadi argumentasinya memiliki landasan serta didukung data yang lengkap.
6.    Jangan mudah mempercayai gambar atau foto yang di-share secara massif. Seringkali sebuah pemberitaan untuk menggalang dukungan, atau membentuk pola common enemy dengan media gambar. Padahal, google image menyediakan fasilitasnya untuk kita menelusuri keaslian gambar. Cobalah anda lakukan, maka google image akan menyebutkan asal gambar/foto yang sebenarnya. Kalau akal kita masih bekerja, tentu kita akan bertanya “mengapa ini bisa terjadi?”
7.   Ketahuilah, tidak ada media yang netral. Media yang tidak memenuhi ekspektasi publik, cenderung di hujat tidak netral dan memihak. Sadarkah kita, media membutuhkan rating, oplah, dan ingin menjadi mainstream. Karena itu jangan mengharapkan media untuk bersikap netral, kalau anda sendiri memihak. Seharusnya, dari pembaca-lah sikap netral itu ditemukan.
8.    Olah data dan kemas informasi. Sebuah berita, yang sifatnya kronologis, reportase, dan investigatif harus memiliki data primer. Minimal, ditunjang data sekunder. Kalau tidak memiliki data, hanya sebatas “kicauan” media sosial semata. Sebaiknya abaikan saja. Alih-alih mau mengungkap “fakta”, justru malah jadi pesakitan. Lihatlah Bambang Tri, penulis buku Jokowi Undercover.
9.     Hindari sikap sok tahu, atau merasa paling tahu. Sikap seperti ini, bukan membuat orang lain bersimpati. Justru memperlebar jarak permusuhan. Biasanya dapat dilihat dari status, maupun komentar yang tidak pada tempatnya. Tidak menempatkan diksi pada jalurnya. Seperti, mengendarai mobil di atas air.
10.    Jadikanlah media sosial sebagai alat mengembangkan wawasan.

Kira-kira seperti itulah pendapat saya. (*)

(*) Muhammad Syahudin_ Pegiat Literasi Sureq Institute

Psikologi Pendidikan Anak

     
 A.    Pengertian Perkembangan dan Karakter Siswa Sekolah Dasar
Istilah "perkembangan" (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup kompleks. Di dalamnya terkandung banyak dimensi. Oleh sebab itu, untuk dapat memahami konsep dasar perkembangan, perlu dipahami beberapa konsep lain yang terkandung di dalamnya, di antaranya: pertumbuhan, kematangan, dan perubahan.
peradaban dapat tercipta dengan dialog